Sabtu, 22 Februari 2014

Gerakan Perempuan Indonesia (Korp PMII Putri)

berbicara tentang gerakan perempuan tak lepas dari sejarah feminisme dimana hal itu banyak menyangkut tentang gerakan-gerakan perempuan atau emansipasi wanita yang menuntut keadilan  hak danngan pria. Perlu kita sadari bahwa sebelum adanya gebrakan emansipasi wanita, jauh sebelum itu indonesia sudah mengalami hal itu, contoh yang bisa kita ambil adalah cut nyak dien, beliau adalah salah satu tokoh pahlawan wanita dari Aceh pada tahun 1850 yang mendapat julukan srikandi Indonesiadi indonesia. Adalagi Cut Meutia, Kartini dan lain sebagainya. Sekarang kita menuju era Globalisasi modernisasi, dimana kaum muda yang tidak hanya perempuan bahkan laki-laki pun terjangkit demam stylish yang jauh dengan budaya Indonesia. Banyak kaum muda yang diharapkan penerus bangsa menjadi sasaran empuk negara-negara Asing, bahkan untuk mengenal sejarah bangsanya sendiri saja banyak yang tidak tahu. Ini jadi PR kita bersama yang mana tak hanya itu saja yang menjadi permasalahan di Indonesia. Jika berbicara tentang korupsi mungkin kita sudah muak dengan hukum yang ada di Indonesia, yang hanya berkutat dalam masalah itu-itu saja tanpa penyelesaian yang taktis. Jarang sekali media membahas tentang generasi muda kedepannya, jujur banyak saya baca di koran-koran manapun, setiap kali mereka menulis selalu disesuaikan dengan momentum yang ada. Kita kembali lagi pada gerakan perempuan, saat ini, gerakan perempuan cukup mendapatkan perhatian dari pemerintahan, meskipun masih jauh dengan harapan kita. berjalan adem ayem, tetap berjalan namun terkesan lambat.  kita bisa ambil contoh kader putri pmii atau bisa disebut kopri. mungkin untuk ditataran rayon atau komisariat para kader masih aktif dan loyal terhadap organnya, tetapi ketika di tataran komisariat bahkan cabang, hanya 25 bahkan bisa dibilang tidak ada, ini adalah persoalan yang sangat sulit untuk dipecahkan karna ada beberapa kendala, pertama karna mereka bekerja, kedua menikah, ketiga memang sudah merasa malas dan lain sebagainya. perlu disadari bahwa organisasi tidak akan pernah berjalan tanpa tim work atau kerja sama satu sama lain, tidak akan bisa berjalan sendiri apalagi orgnisasi ini bukanlah lembaga provit orientik. masalah inilah yang timbul hingga sampai sekarang belum ada formula baru untuk membangun militansi, loyalitas serta integritas dari pada kader. jika militansi dan loylitas hanya sampai ditataran rayon dan komisariat, lalu bagaimana dengan cabang? apakah kader dirayon hanya bisa menyalahkan kader yang ditataran cabang ketika ada ketimpangan? sangat tidak adil, karna apa? karna yang ditataran cabang sudah tidak lagi memiliki loyalitas terhadap organisasinya sendiri. polemik inilah yang justru menjadi momok menakutkan bagi saya selaku ketua kopri. aku gak kuat. anjing semuanya.

by. Soraya

Contoh Surat Rekomendasi

No         :
Lamp          : -
Hal        : Surat Rekomendasi
Kepada Yth,
Panitia Pelaksana Sekolah Kader Putri I (SKP I)
Assalamu’alaikuk Warahmatullah Wabarakatuh
Salam silaturrahim teriring do’a kami sampaikan semoga sahabat/I senantiasa dalam lindungan-Nya, serta   eksis dalam menjalankan aktifitas keseharian. Amin.
Sehubung dengan diadakanya  Sekolah Kader Putri I (SKP I) PK. KOPRI Sunan Kalijaga Malang, Korp PMII Putri Cabang Surabaya mendelegasikan :

1. Nurlaiylia Maharani
2. Wila Wildayanti
3. Umi Fadilatul ummah
4. Mega
5. Sisna

Sebagai Peserta Sekolah Kader Putri I (SKP I) PK. KOPRI Sunan Kalijaga Malang
.Demikianlah surat pendelegasian ini dibuat dengan semestinya.
Wallahul Muwafieq Illaa aqwamith Thorieq,                                                                                                        Wassalamu’alaikum Warrahmatullah Wabarakatuh
Surabaya , 22 Februari 2014

Mengetahui
PENGURUS CABANG
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA
SURABAYA



Ahmad Zairudin , SH St. Soraya, S.Kom

Ketua Umum