berbicara
tentang gerakan perempuan tak lepas dari sejarah feminisme dimana hal itu
banyak menyangkut tentang gerakan-gerakan perempuan atau emansipasi wanita yang
menuntut keadilan hak danngan pria.
Perlu kita sadari bahwa sebelum adanya gebrakan emansipasi wanita, jauh sebelum
itu indonesia sudah mengalami hal itu, contoh yang bisa kita ambil adalah cut
nyak dien, beliau adalah salah satu tokoh pahlawan wanita dari Aceh pada tahun
1850 yang mendapat julukan srikandi Indonesiadi indonesia. Adalagi Cut Meutia,
Kartini dan lain sebagainya. Sekarang kita menuju era Globalisasi modernisasi,
dimana kaum muda yang tidak hanya perempuan bahkan laki-laki pun terjangkit
demam stylish yang jauh dengan budaya Indonesia. Banyak kaum muda yang
diharapkan penerus bangsa menjadi sasaran empuk negara-negara Asing, bahkan
untuk mengenal sejarah bangsanya sendiri saja banyak yang tidak tahu. Ini jadi
PR kita bersama yang mana tak hanya itu saja yang menjadi permasalahan di
Indonesia. Jika berbicara tentang korupsi mungkin kita sudah muak dengan hukum
yang ada di Indonesia, yang hanya berkutat dalam masalah itu-itu saja tanpa
penyelesaian yang taktis. Jarang sekali media membahas tentang generasi muda
kedepannya, jujur banyak saya baca di koran-koran manapun, setiap kali mereka
menulis selalu disesuaikan dengan momentum yang ada. Kita kembali lagi pada
gerakan perempuan, saat ini, gerakan perempuan cukup mendapatkan perhatian dari
pemerintahan, meskipun masih jauh dengan harapan kita.
berjalan adem ayem, tetap berjalan namun terkesan lambat. kita bisa ambil contoh kader putri pmii atau
bisa disebut kopri. mungkin untuk ditataran rayon atau komisariat para kader
masih aktif dan loyal terhadap organnya, tetapi ketika di tataran komisariat
bahkan cabang, hanya 25 bahkan bisa dibilang tidak ada, ini adalah persoalan
yang sangat sulit untuk dipecahkan karna ada beberapa kendala, pertama karna
mereka bekerja, kedua menikah, ketiga memang sudah merasa malas dan lain
sebagainya. perlu disadari bahwa organisasi tidak akan pernah berjalan tanpa
tim work atau kerja sama satu sama lain, tidak akan bisa berjalan sendiri
apalagi orgnisasi ini bukanlah lembaga provit orientik. masalah inilah yang
timbul hingga sampai sekarang belum ada formula baru untuk membangun militansi,
loyalitas serta integritas dari pada kader. jika militansi dan loylitas hanya
sampai ditataran rayon dan komisariat, lalu bagaimana dengan cabang? apakah
kader dirayon hanya bisa menyalahkan kader yang ditataran cabang ketika ada
ketimpangan? sangat tidak adil, karna apa? karna yang ditataran cabang sudah
tidak lagi memiliki loyalitas terhadap organisasinya sendiri. polemik inilah
yang justru menjadi momok menakutkan bagi saya selaku ketua kopri. aku gak
kuat. anjing semuanya.
by. Soraya