Oleh: Moh. Ali Wafa (dikirim via email)
Sebelum kita masuk lebih dalam yang jelas kita akan bertanya terlebih dahulu:
Apa itu manusia?
Manusia
yang kerap kali kita dengar dimuka bumi adalah puncak ciptaan Tuhan,
mahluk yang paling tertinggi dan merupakan wakil dari Tuhan dibumi untuk
menjalankan amar ma`ruf nahi mungkar. Sesuatu yang yang membuat
manusia menjadi manusia bukan hanya dari beberapa sifat atau kegiatan
yang ia miliki, melainkan suatu susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan
yang khusus dimiliki manusia saja yaitu fitrah.
Dengan adanya fitrah manusia yang mempunyai dorongan berbuat
suci yang secara kodrati cenderung kepada kebenaran. Hati nurani
merupakan pemancar dari lahirnya kebaikan manusia, kesucian, kebenaran.
Adapun tujuan hidup manusia adalah kebenaran yang mutlak atau kebenaran
yang terakhir yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Fitrah
merupakan bentuk keseluruhan tentang diri manusia yang secara asasi dan
prinsipil membedakannya makhluk-makhluk yang lain. Dengan memenuhi hati
nurani seseorang berada dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.
Kehidupan
manusia dipersentasikan dalam bentuk kerja atau kita sebut amal
perbuatan selama ia hidup dibumi, dan nilai-nilai tidak akan dikatakan
hidup dan berarti sebelum ada action dalam bentuk
kegiatan-kegiatan amaliah yang kongkrit. Sedangkan nilai hidup manusia
tergantung pada nilai kerjanya. Dengan melalaui amal perbuatan yang
berprikemanusian (tuntuna hati nurani) manusia mengecap kebahagian,
namun sebaliknya jika manusia amal perbuatannya tidak berprikemanusian
maka ia akan menderita kepedihannya.
Dikatakan
hidup itu berarti jika dijalani dengan sungguh-sungguh dan sempurna,
yang didalamnya manusia dapat mewjudkan dan mengembangkan
kecakapan-kecakapan yang memenuhi keperluannya. Manusia dapat diakatakan
hidup berarti dan berharga apabila dia merasakan kebahagian, kenikmatan
dalam kegiatan-kegiatan yang membawa perubahan kearah kemajuan baik mengenai alam maupun masyarakat.
Seorang
manusia sejati (insane kamil) adalah yang kegiatan mental phisikisnya
merupakan suatu keseluruhan, kerja rohani dan jasmani bukanlah dua
kenyataan yangterpisah, dia tidak mengenal perbedaan antara kerja dan
kesenangan, kerja baginya dimaknai sebagai kesenagan dan kesenangan ada
dalam dan melalui kerja. Dia berkepribadian merdeka, memiliki dinya
sendiri, dengan menyatakan keluar corak perorangannya dan mengembangkan
kepribadiannya dan wataknya secara harmonis, dia tidak mengenal
perbedaan antara kehidupan individu dan kehidupan komunal, tidak
membedakan antara perorangan dan sebagai anggota masyarakat. Hak dan
kewajibannya serta kegiatan-kegiatan untuk dirinya adalah juga sekaligus
untuk sesame ummat manusia.
Baginya
tidak ada pembagian dua antara kegiatan rohani dan jasmani, pribadi dan
masyarakat, agama dan politik, maupun duni dan akhirat. Kesemuanya
dimanifestasiakan dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal pancaran
niatnya yaitu kebaikan dan kebenaran.
~Wamaa kholaqtul jinna walinsa illaliyagbudzun.(al-Quran, S, Adz-dzariyah: 56)---( dan aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengapdi kepada-Ku).
~Maka
hadapkanlah dengan lurus kepada agama Allah (tataplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…….(Al-Qur`an, S,
Ar-Rum: 30)
~Wahai
orang yang beriman, kenapakah kamu menagtakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan, amat besar kebenciannya disisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang kamu tidak kamu kerjakan (Al-Qur`an, S, As-Shaf: 2-3 ).
ü Refrensi
~Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar